Persiapan Menuju Tatanan Baru: Penerapan Kebijakan di Kawasan Malioboro

  • Whatsapp

AKTUAL BORNEO,Beragam upaya tengah dilakukan Pemda DIY dan jajaran terkait dalam rangka melakukan penyesuaian dengan tatanan kehidupan baru. Pemberlakukan ini dilakukan di berbagai aspek yakni sosial, ekonomi, budaya, hingga pariwisata. Seperti halnya menerapkan kebijakan bagi masyarakat yang memasuki Kawasan Malioboro.

.
Menurut penuturan Ekwanto, Kepala UPT Malioboro, saat dihubungi pada Kamis (18/6), kebijakan memasuki Malioboro telah diterapkan sejak Kamis (11/6) yakni membagi akses pejalan kaki menjadi dua arah. “Sisi trotoar bagian barat digunakan untuk akses pejalan kaki dari selatan ke utara, sementara sisi trotoar sebelah timur digunakan untuk akses pejalan kaki dari arah utara ke selatan,” ujarnya.

Selanjutnya, pada setiap titik masuk, akan ada petugas yang memeriksa suhu dan mengecek alat pelindung diri yakni masker. “Kalau sisi utara ada di depan Hotel Grand Inna, kalau sisi selatan ada di Tugu Ngejaman, utaranya Gedung Agung. Nyuwun sewu kalau tidak pakai masker, kami minta untuk putar balik, dilarang masuk. Selain itu, pengunjung juga wajib untuk scan barcode yang tertera, untuk memudahkan kami melakukan pelacakan jika terjadi sesuatu. Ketentuan ini tak hanya berlaku bagi para pengunjung saja, melainkan juga berlaku untuk pedagang,” tambahnya.

Pengunjung yang masuk ke Malioboro dari salah satu sisi tetap harus keluar dari sisi yang sama. “Kalau masuk dari selatan, nanti ketika sudah sampai utara dan mau keluar, harus menyeberang dan berjalan melalui trotoar di sisi timur hingga keluarnya di Pasar Sore. Sedangkan kalau masuknya dari sisi utara, kalau sudah sampai selatan harus menyeberang dan berjalan melalui trotoar sisi barat hingga keluar di Jalan Pasar Kembang. Kalau ada perlu mendadak dan harus keluar di tengah, nanti dikomunikaskan dengan petugas yang berjaga. Intinya harus balik arah, masuk dari selatan ya keluar di selatan dan sebaliknya,” jelasnya.

Untuk petugas jaga yang melakukan pengecekan, Ekwanto mengatakan bahwa petugas akan aktif selama 24 jam. “Kami bagi menjadi 3 shift, per delapan jam, jam 8 pagi hingga 4 sore, dan seterusnya. Kami harapkan, kontrol bisa dilakukan tanpa jeda, kalau ada jam nonaktif-nya kan percuma saja. Malioboro kan aktif selama sehari penuh,” jelasnya.

Disinggung mengenai kemungkinan masuknya pengunjung dari sirip-sirip Malioboro, Ekwanto menjelaskan bahwa pihaknya telah memikirkan kemungkinkan tersebut. Ekwanto berujar, “Memang ada 11 sirip jalan masuk Malioboro dari sisi samping. Saat ini sudah ada petugas yang berjaga pada titik-titik tersebut. Hanya saja, belum semuanya dibekali dengan alat cek suhu tubuh. Sejauh ini, petugas-petugas tersebut kewajibannya adalah mengingatkan siapapun yang akan masuk ke Kawasan Malioboro namun tidak mengenakan masker. Kalau new normal sudah diterapkan nanti, mereka akan melakukan pengecekan lengkap.”

Di sisi lain, untuk mendukung imbauan pemerintah, saat ini telah ada fasilitas 40 wastafel cuci tangan di sepanjang Malioboro. “Pembagiannya, sepanjang trotoar sisi kanan 20 buah, kiri juga 20 buah. Ini fasilitas dari Pemkot, airnya kami isi setiap hari. Tak hanya itu, tempat duduk yang ada di Malioboro sudah kami beri tanda agar pengunjung bisa saling menjaga jarak. Mohon dukungan masyarakat agar tidak merusak tanda yang telah dipasang tersebut,” tukas Ekwanto.

Ekwanto kemudian menegaskan, “Bahwa meskipun pengecekan sisi selatan baru dimulai di titik Tugu Ngejaman, patroli dan pengecekan juga senantiasa dilakukan di sisi paling selatan Malioboro, yakni kawasan nol kilometer. “Kawasan tersebut sebenarnya sudah dijaga oleh PAM Budaya. Namun sebagai langkah antisipasi, kami juga lakukan pemeriksaan pada titik tersebut. Sehingga, pengunjung Malioboro yang akan masuk dari sisi selatan akan diperiksa dua kali.”

Adapun dalam kurun satu minggu setelah kebijakan diberlakukan atau Kamis (18/6), tercatat ada sekitar 3000 hingga 4000 pengunjung yang memasuki Kawasan Malioboro. “Di satu sisi kami melihat adanya geliat kebangkitan masyarakat, di satu sisi kami juga was-was. Untuk itu, kebijakan yang telah berjalan ini masih harus kami sempurnakan dan kami kaji lebih lanjut sebelum new normal diberlakukan. Sehingga siapapun yang nantinya berkunjung ke Malioboro akan merasa aman dan nyaman,” tutupnya. [vin]Humas Pemda DIY (AB/Hafish Mirza)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *