Dari 23.500 Ha Desa Sepaso Selatan, Hampir Seluruh Luasan Dikuasai Perusahaan

  • Whatsapp

AKTUALBORNEO.COM – Tapal batas wilayah menjadi satu tanda pembatas dalam administrasi pemerintahan antar desa yang merupakan rangkaian titik-titik koordinat.

Siapa menyangka, Desa Sepaso Selatan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kaltim yang memiliki luasan sekira 23,521 hektare persegi ternyata hampir seluruh wilayahnya masuk dalam Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B).

PKP2B merupakan perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan perusahaan berbadan hukum Indonesia untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan batubara.

Kepala Desa Sepaso Selatan, Sadarudin menjelaskan jika luasan desa di wilayahnya tersebut ternyata hampir sebagian besarnya masuk dalam PKP2B.

Tak hanya itu, perkebunan kelapa sawit pun turut ambil andil didalam luasan daerahnya.

“Jadi dari luasan yang ada itu, sekitar 19,081 ribu hektare atau sekira 85 persen masuk di PKP2B, luasan perkebunan kelapa sawit sekitar dua ribu hektare, dan masih ada dua perusahaan lagi itu belum terhitung, jadi sisa luasan kita ya hanya persekiannya saja,” ujarnya saat ditemui, Senin (7/9/2020).

Desa yang berdiri sejak tahun 1974 dan dimekarkan pada tahun 2003, Desa Sepaso pertama ini dibagi menjadi empat wilayah, Desa Sepaso Timur, Sepaso Induk, dan Sepaso Barat.

Desa Sepaso Selatan terdiri dari 598 kepala. Keluarga dari 2054 jiwa. Rata-rata penduduknya berprofesi sebagai petani. Juga terdiri dari 11 rukun tetangga (RT).

Meskipun menjadi desa pertama di Bengalon, namun perkembangan didesa itu sangat minim. Dari segi pendidikan saja didesa ini hanya terdapat sekolah dasar (SD).

“Perkembangan desa ini sudah cukup lumayan, meskipun tak signifikan namun sudah lebih baik, meskipun hanya ada SD saja, permasalahannya ialah infrastruktur, jembatan ada tapi hanya untuk pejalan kaki, itupun jembatannya sudah kurang layak,” terangnya.

Lebih lanjut dikatakan, dari jumlah anak didik sebenarnya sudah mencukupi jika sekolah menengah pertama (SMP) masuk dikawasan ini, namun kembali lagi kepermasalahn infrastrukturnya.

Jembatan Gantung (Jembatan kuning) yang menjadi ikon desa Sepaso Selatan kini kondisinya sangat memprihatinkan, dibangun sejak tahun 2005 silam, kini jembatan itu banyak mengalami kerusakan.

“Dulu akses utama kita yang jembatan gantung ini, kini kondisinya ya sudah tak layak untuk dilalui bagi pejalan kaki, sangat beresiko, kita berharap tentunya rencana pembangunan jembatan dibagian hilir segera direalisasikan,” pungkasnya.

Sebab jika insfrastruktur tak memadai maka segala perkembangan desa pun akan terhambat. UMKM dan anak sekolah menjadi sulit. (Vitri/ab).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *