Ekspor UKM Kaltim di 2020 Capai Rp 428,2 Miliar

  • Whatsapp

AKTUALBORNEO.COM – Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan pilar penting perekonomian nasional. Di Kaltim sendiri, kinerja UMKM telah memberikan peran yang luar biasa sebagai penyokong urat nadi perekonomian daerah.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sepanjang tahun 2020 hingga awal tahun 2021 ini, tak mengendurkan semangat para pelaku UMKM di Kaltim untuk terus berkreasi.

Mereka tetap berkarya hingga mampu menghasilkan produk-produk berkualitas dan berdaya saing tinggi baik di pasar domestik maupun pasar internasional.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) dan UKM Provinsi Kaltim HM Yadi Robyan Noor mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan pemetaan UMKM di 10 kabupaten dan kota di Kaltim.

Dari hasil pemetaan yang dilakukan tercatat sebanyak 307.343 unit UMKM tersebar aktif. Terdiri dari 297.207 unit usaha mikro, 9.440 unit usaha kecil dan 696 unit usaha menengah. UMKM yang bergerak di sektor kuliner 83.996 unit, industri pengolahan 13.921 unit, industri kerajinan 1.573 unit, perdagangan 169.142 unit, dan jasa sebanyak 28.711 unit.

“Jumlah tenaga kerja terserap dari sektor informal ini tidak kurang dari 1,5 juta orang,” sebut Roby sapaan akrabnya, Senin (1/2/2021).

Mantan Kepala Biro Humas Setda Provinsi Kaltim ini juga menguraikan sukses ekspor UKM Kaltim, meski sepanjang tahun 2020 pandemi Covid-19 sudah melumpuhkan perekonomian dunia.

Data Disperindagkop dan UKM Kaltim untuk ekspor UKM yang memanfaatkan fasilitas IPSKA (Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal) sepanjang tahun 2020 terdapat 15 UKM, dengan total nilai ekspor mencapai Rp428,2 miliar.

Komoditi yang dijual meliputi olahan kayu dengan negara tujuan Singapura, Jepang, Korea Selatan, China, Taiwan, Jerman, Italia, Belanda, Islandia, Afrika Selatan dan Amerika Serikat. Lidi nipah dan sawit dengan negara tujuan India. Minyak jelantah dikirim ke Belanda dan Malaysia. Udang diberangkatkan ke Jepang, Inggris dan Taiwan. Rumput laut ke Korea Selatan. Merica diekspor ke Singapura, Amerika, Afrika Selatan dan Islandia. Sedangkan fatty palm acid (asam lemak bebas) asal Kaltim diminati buyer dari China.

Selain itu pada tahun 2020, Kaltim juga sukses melakukan ekspor dari UKM industri kreatif dengan nilai total ekspor mencapai Rp7,6 miliar. Produk kreatif yang diekspor meliputi aksesoris manik-manik, batu, lidi nipah, amplang, pisang, kerajinan rotan dan mandau. Negara tujuan komoditi-komoditi kreatif ekspor tersebut meliputi Amerika, Malaysia, India dan Brunei.

“Kerja UKM Kaltim patut kita apresiasi, sebab meski menghadapi serangan pandemi yang begitu berat, UKM kita masih tetap bisa menembus pasar ekspor,” tandas Roby.

Sukses UKM menembus pasar ekspor menurut Roby, juga tidak lepas dari pesan Gubernur Isran Noor agar UKM Kaltim konsisten menjaga kualitas produknya.

“Ekspor itu menjelaskan standar barang yang ketat, asal barang, mampu bersaing dan kompetitif. Barang yang diekspor pastilah produk-produk berkualitas. Ini yang selalu dipesankan oleh Bapak Gubernur, agar kualitas kita benar-benar dijaga dengan baik,” papar Roby.

Ke depan lanjut Roby, industri kreatif yang potensial untuk ekspor adalah industri kriya, industri fashion dan industri makanan.

Industri kriya meliputi  usaha kerajinan berbasis tekstil, kulit, kayu, anyaman, kertas, kaca, logam, usaha mebel/furnitur, perhiasan dan barang berharga.

Industri fashion terdiri dari usaha pembuatan pakaian, barang dari kulit dan alas kaki.  Industri makanan meliputi restoran/kafe, usaha makanan dan minuman.

Bukan hanya sukses untuk urusan ekspor, UKM Kaltim juga konsisten dalam perdagangan domestik. Tidak kurang dari 18 UKM binaan Disperindagkop dan UKM Kaltim yang juga sukses melakukan transaksi sepanjang tahun 2020 dengan nilai penjualan mencapai Rp11,4 miliar.

“Jadi, ekspornya sukses, perdagangan domestiknya juga sukses,” bangganya.

Produk UKM industri kreatif yang sukses dalam perdagangan dalam negeri antara lain berupa rumput laut, sarang burung walet, nanas, madu hitam, madu kelulut, aksesoris manik-manik, batu, sarung Samarinda, masker dan anyaman manik. Ada pula anyaman rotan, ulap doyo, amplang, pisang, kopi, lada, buah naga, dan mandau.

Sedangkan daerah tujuannya meliputi Sulawesi Selatan, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Papua, Kalimantan Selatan, Aceh, Kalimantan Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat dan Sulawesi Tenggara.

Roby menjelaskan, Kaltim memiliki potensi yang besar karena memiliki banyak produk yang tidak dimiliki daerah lain, seperti bawang tiway, ulap doyo, tumpar, kulit kayu jomo’, dan manik-manik.

Kaltim juga masih menyimpan potensi bahan baku yang melimpah antara lain sarang burung walet, hasil perikanan tangkap dan budidaya, sabut kelapa, tempurung kelapa, karet, lidi nipah,  rumput laut, lada, kayu, kakao, jahe dan porang.

“Yang jelas, potensi pasar dalam negeri dan luar negeri masih sangat terbuka,” yakin Roby.

Sementara dalam upaya membantu pengembangan dan penguatan UMKM telah disalurkan Bantuan Presiden Untuk Usaha Mikro (BPUM) untuk 89.285 UMKM dengan nilai Rp214 miliar dengan realisasi mencapai 100 persen per 30 Januari 2021.

Bantuan Langsung Tunai dari APBD Provinsi Kaltim untuk 13.916 UMKM dengan total anggaran Rp10,4 miliar. Kemudian pelaksanaan pelatihan kepada 450 pelaku UMKM dan pendampingan UKM melalui pembentukan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kaltim dan Klinik Bisnis   yang berisikan tenaga pendamping dengan kompetensi bidang pemasaran, produksi, pembiayaan, IT, kerja sama, kelembagaan dan SDM.

Disperindagkop dan UKM Kaltim juga membantu menjalin kerja sama dengan Kementerian Perdagangan dan Grup Accor Hotel dalam pembelian produk UMKM untuk keperluan hotel. Kemudian juga melakukan penyiapan desain kerajinan khas Kaltim untuk dikerjasamakan pemasarannya melalui outlet UKM Yogyakarta di luar negeri.

Penguatan lainnya adalah membangun kemitraan pemasaran dengan pelaku usaha di Jawa Tengah dan Yogyakarta  dalam bentuk pemesanan beberapa desain produk kerajinan untuk dikolaborasikan dengan kerajinan di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

“Saat ini kami juga sedang menyiapkan kerja sama dengan Gojek untuk subsidi ongkos kirim dalam memasarkan produk UMKM secara online,” tutupnya.  (sul/humasprov kaltim).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *