Kupu-kupu Malam di Kutim Menggila, Transaksi Online hingga COD

  • Whatsapp
Illustrasi kupu kupu malam, (sumber google)
AKTUALBORNEO.COM – Ditengah pandemi Covid-19, kupu-kupu malam di Kutai Timur (Kutim) kembali merebak. Bak cendawan di musim hujan, para pekerja seks komersial (PSK) dari luar kota kembali berdatangan. Di kota yang dikenal dengan daerah penghasil tambang batu bara ini, mereka mencoba peruntungan dan menebar jerat bagi para pria hidung belang.
Untuk memikat para konsumennya, para pekerja seks komersial (PSK) lintas kabupaten dan kota ini menjalankan sistem Cash On Delivery (COD) dan memilih sejumlah hotel, penginapan, ataupun guest house di kawasan Sangatta Utara yang cukup terjangkau untuk menjalankan bisnis esek-eseknya.
Seperti diutarakan oleh Bunga (nama samaran), salah satu kupu-kupu malam AKDP yang tengah mencoba peruntungan di Kutim dan tinggal di salah satu penginapan di Kecamatan Sangatta Utara, bersama ketiga rekan seprofesinya saat dikonfirmasi menyebutkan bahwa cara tersebut cukup efektif untuk pekerjaan yang digelutinya, pasca maraknya penipuan berkedok prostitusi online yang merebak dan diakuinya menghancurkan pekerjaan yang digelutinya tersebut.
Kupu-kupu malam yang telah menjelajah setengah kabupaten dan kota di Kaltim dalam masa pandemi tersebut juga menyebutkan bahwa Kutim dijadikan pilihan setelah melihat banyaknya para lelaki hidung belang yang mengaku berasal dari Kutim mencoba mengontaknya ataupun kupu kupu malam lainnya melalui aplikasi MiChat.
“Terlebih di Kutim tidak seperti kabupaten ataupun kota lainnya, disini tidak ada larangan khusus, hanya pakai masker saja, rata rata yang jadi pelanggan juga adalah lelaki hidung belang yang sebelumnya pernah ditipu di MiChat, tarif standar sih Rp 400 ribu saja untuk short time, tidak tahu kalau yang lain, sehari bisa 4 sampai 7 tamu,”jelasnya.
Wanita berpostur semampai ini juga menyampaikan bahwa sepengetahuannya, saat ini lebih dari 10 PSK dari luar kota seperti dirinya yang tengah mencoba peruntungan di Kutim dan tersebar di beberapa hotel, penginapan dan guest house, baik yang ber status single player seperti dirinya maupun bersama ‘mami ataupun papi’ yang siap menjajakan ataupun menjadi perantara.
“Pegawai hotel atau penginapan biasanya sudah paham kalau kita nginap dan bawa tamu. Bisa 4 hingga 7 hari stay di hotel atau penginapan, lalu pindah ke hotel lainnya lagi, biasanya pindah ke kota lain itu kalau ada pesanan atau kalau disini sudah sepi gak ada orderan lagi,” imbuhnya
Ditemui setelahnya, Putri Bunga (nama samaran) salah satu kupu kupu malam lokal Kutim juga menuturkan hal yang senada dengan Maya, menurutnya dirinya sering berpindah pindah penginapan dalam menjajakan diri untuk menghindari kecurigaan.
Perempuan yang pernah bekerja di cafe sebagai pemandu lagu dan juga sebagai tukang pijit plus plus ini juga mengatakan bahwa dirinya juga menjajakan diri melalui aplikasi MiChat, dan mengaku sering menerima panggilan dari salah seorang ‘mami’ yang membuka usaha salon di salah satu sudut Kota Sangatta untuk memuaskan para pria yang menjadi pelanggan mucikari tersebut.
“Kalau sendiri tarif 500 ribu sekali main, kalau dipanggil sama mami, dia yang tentukan tarifnya ke pelanggan, saya hanya dikasi sesuai tarif saya tadi, kalau prlanggan rata rata sudah dewasa semua, kisaran umurnya 23 tahun keatas,” pungkasnya.
Diketahui, dalam pemberitaan awak media, THM di Kota Sangatta juga terus menjalankan usahanya ditengah pandemi, selain diduga tak mematuhi protokol kesehatan, THM ini juga diduga menjalankan bisnis esek-esek terselubung menggunakan salah satu pekerjanya untuk menjadi perantara bagi para pemandu lagu maupun bagi PSK freelance untuk memenuhi hasrat birahi para tamu mereka dengan harga booking yang cukup fantastis dengan kisaran harga lebih dari 2 juta rupiah untuk satu kali booking. (red/ab).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *