YKAN dan PT. PII Luncurkan Program Pengelolaan Hutan Mangrove melalui Budi Daya Udang di Berau

  • Whatsapp

AKTUALBORNEO.COM – Budi daya udang menjadi komoditas perikanan yang meliputi 15% dari total nilai perdagangan perikanan global. Hal ini menjadikan budi daya udang memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi lokal.

Dengan menerapkan praktik akuakultur yang berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi ini dapat berjalan selaras dengan upaya global dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.

Hal inilah yang menjadi fokus kerja sama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan PT. Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero)/PT PII dalam program Pengelolaan Hutan Mangrove Berbasis Masyarakat melalui Budi Daya Udang Berkelanjutan yang diluncurkan pada tanggal 1 Desember 2021, dengan lokasi pendampingan di Kampung Pegat Batumbuk, Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.

“Kabupaten Berau tercatat sebagai wilayah yang memiliki ekosistem mangrove terluas di Provinsi Kalimantan Timur. Namun, pembukaan tambak udang yang tidak terencana menjadi pendorong utama deforestasi mangrove. Sebagian besar tambak udang di Delta Berau berukuran besar, mulai dari 5 hingga 25 hektare. Luasnya tambak ini berbanding terbalik dengan produktivitasnya yang hanya 27 kg per hektare per siklus. Produktivitas yang rendah ini menjadi salah satu alasan untuk membuka tambak udang baru demi mendapatkan lebih banyak manfaat ekonomi,” terang Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman.

Perubahan alih fungsi lahan mangrove ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi ekosistem, sekaligus mengancam sumber penghidupan masyarakat pesisir. Untuk mengatasi hal tersebut, YKAN bersama Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, memperkenalkan pendekatan SECURE (Shrimp-Carbon Aquaculture). Pendekatan ini dilakukan dengan mendesain ulang tambak udang ke ukuran yang lebih kecil dan menggabungkannya dengan restorasi hidrologi mangrove.

“Melalui pendekatan SECURE, saat ini telah direstorasi 10 hektare tambak udang aktif menjadi 2 hektare tambak udang. Sementara areal sisanya, sebesar 8 hektare digunakan sebagai areal restorasi mangrove yang akan mendukung pakan alami untuk udang dan ikan, serta mengurangi emisi karbon. Pendekatan SECURE membantu meningkatkan produktivitas tambak dengan melibatkan masyarakat setempat dalam merestorasi sebagian tambak yang tidak produktif menjadi mangrove yang sehat kembali. Metode ini juga diterapkan dalam pengelolaan tambak berkelanjutan di Kampung Pegat Batumbuk yang didukung oleh PT. PII. Kami percaya bahwa upaya kolaboratif menjadi kunci untuk melakukan konservasi,” jelas Direktur Eksekutif YKAN Herlina Hartanto.

PT PII memberikan komitmen dukungan dalam penerapan SECURE yang menggunakan pendekatan mata pencaharian yang selaras dengan upaya konservasi mangrove. Kerja sama YKAN dan PT PII di Pegat Batumbuk ini akan berlangsung dalam kurun waktu tiga tahun. Dalam tahap pengelolaan tambak SECURE, masyarakat akan didampingi sekaligus diberikan informasi dan pelatihan mengenai praktik akuakultur berkelanjutan.

“Kami menyadari, pembangunan infrastruktur juga perlu dibarengi dengan prinsip praktik yang berkelanjutan, demi kelestarian alam Indonesia. Hal inilah yang membuat kami terpanggil untuk mendukung Program Pengelolaan Hutan Mangrove Berbasis Masyarakat melalui Budi Daya Udang Berkelanjutan di Kabupaten Berau. Kemampuan mangrove menyerap karbon menjadikannya salah satu strategi utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Berdasarkan kajian solusi iklim alami, mangrove berkontribusi sebesar 3% terhadap target penurunan emisi nasional,” terang Direktur Utama PT PII M. Wahid Sutopo.

Keseimbangan untuk keberlanjutan
Upaya melindungi ekosistem mangrove di Kabupaten Berau secara tidak langsung mendukung produksi perikanan tangkap dan budi daya. Sebagai habitat udang, ikan dan kepiting, ekosistem mangrove memiliki arti penting bagi nelayan dan petambak, serta masyarakat pesisir Kabupaten Berau.

“Pelaksanaan Program SECURE di Kampung Pegat Batumbuk ini diharapkan dapat mempromosikan dan memperluas jangkauan kelompok petambak untuk mendukung upaya pemerintah dalam program restorasi mangrove, dan mendukung upaya Pemerintah Kabupaten Berau dalam memberikan akses pengetahuan dan pendampingan kepada masyarakat secara partisipatif. Melalui program ini, masyarakat dapat mengembangkan ekonomi lokal dengan melindungi alam yang telah melindungi mereka,” terang Direktur Pengembangan dan Pemasaran YKAN Ratih Loekito.

Ibarat dua sisi mata uang, konservasi harus berdampingan dengan kegiatan ekonomi. Sebaliknya, kegiatan ekonomi harus mempertimbangkan aspek konservasi.

“Dalam konteks restorasi mangrove dan budi daya tambak berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Berau bersama YKAN dan para pihak, terus mempromosikan upaya altenatif untuk menjembatani aspek ekonomi dan ekologi. Sejumlah inisiatif yang kami lakukan di Kabupaten Berau untuk mempromosikan hal itu, dilakukan dengan melakukan uji coba model restorasi mangrove di tambak aktif, dengan menjembatani kepentingan pemulihan ekosistem dan keberlanjutan produksi udang. Karena itu kami menyambut baik inisiatif ini dan mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada YKAN dan PT PII yang telah bersinergi untuk memberikan dukungan kepada Pemerintah Kabupaten Berau dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya di sektor perikanan,” pungkas Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau Tenteram Rahayu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.